PPDM Baim

My NeoBux

Sabtu, 31 Desember 2011

Kisi-Kisi Soal Tingkat II Semester Pondok Tahun 2012

Kisi-Kisi Soal Tingkat II Semester Pondok tahun 2012

Mata pelajaran Tajwid :
- soal dibuat dari :
     1. Muqodimah
     2. Bab Akhkaamittanwini wannunissaakinah
         Meliputi : a. Izhar   b. idgham   c. iqlab    d. ikhfa
     3. Bab Akhkaamilmiimi wannuunilmusyaddataini walmiimissaakinah
         Meliputi : a. Gunnah   b. Ikhfa Syafawi  c. izhar syafawi
     4. Babul Idgham
         Meliputi : a. Idgham Misli  b. Idgham Jinsi




Mata Pelajaran Hadist :
- soal dibuat dari :
    1. Diriwatkan Oleh siapa saja  Hadist 1-6 
    2. Hadist 1 - 6
        Meliputi :
        - Hadist 1  NIAT
        - Hadist 2  ISLAM, IMAN, IHSAN DAN KIAMAT
        - Hadist 3  RUKUN ISLAM
        - Hadist 4  ASAL KEJADIAN MANUSIA DAN KETENTUAN 
                          BAHAGIA ATAU CELAKANYA
        - Hadist 5  BID'AH
        - Hadist 6  PERKARA SYUBHAT





Jumat, 16 Desember 2011

suatu hari

Hari ini jum'at 16 desember 2011, aku bisa terbangun tepat pukul 11 siang., itupun karna suara panggilan, "ang baim dipanggil ibu" terdengar sayup-sayup ditelingaku, mendengar kata ibu yang memanggilku , akupun langsung terbangun dari tidurku, perasaaan tidak nyaman bertempat di punggungku , itu karena setelah sholat shubuh aku ketiduran dengan posisi yang salah, tanpa banyak merapihkan diri aku langsung turun kebawah untuk menumui ibu,"tolong kekantor pos isi listrik yang seratus ribu". mungkin karena segan dengan ibu tanpa cuci muka dan mandi aku melangkahkan diri ke kantor pos dengan pakaian kusut dan sarung yang berantakan, tapi ta apalah, dalam bayanganku saat itu hanya ada sang penjaga kasir pos yang menurutku sedikit membuat mataku terbangun dari mimpi-mimpi yang tak pasti.. kartu tanda pelanggan listrik pun aku berikan padanya, dengan senyum yang indah dia bertanya "yang berapa A ngisinya" dengan sedikit memandang matanya aku menyodorkan uang seratus ribuan " semuanya A " aku hanya mengangguk karna melihat matanya yang indah, waktu pun menunjukan pukul 11.30 itu tandanya aku harus bergegas untuk mandi dan menuju masjid baiturrohman weru, tentunya untuk melaksanakan kewajiban sebagai umat muslim tak lain dan tak buka yaitu sholat Jum'at, sholat jum'at selesai waktupun terus berjalan, sampai pesantren aku bingung ingin melakukan apa , sementara dalam bayanganku, jadwal hari ini sudah tersusun rapih , 15.30 aku sudah harus meluncur ke tempat foto copy untuk memperbanyak soal dari departemen agama yang hanya menyediakan 15 soal ujian untuk DTA , sedangkan baru seminggu kemarin murid DTA disini bertambah menjadi 40 anak, semester pun dimulai, mata pelajaran sejarah kebudayaan islam menjadi mata pelajaran penutup semester tahun ini, sedikit lega rasanya karna semester anak-anak sudah selesai, tapi terbesit juga bayangan akan sepinya tempat ini karna sebentar lagi akan datang libur madrasah,
Adzan maghrib berkumandang, sholat berjamaah pun didirikan, seperti biasa surat2 pendek tak lupa kami baca bersama-sama setelah sholat selesai, bagiku setelah maghrib itu merupaka suatu tantangan untuk bisa mengajarkan ilmu tata cara baca al-Qur'an pada dua muridku yang sangat spesial ini, karna mereka ridak sama dengan anak-anak yang lain harus butuh sedikti lebih sabar dalam menyampaikan ilmu itu, tapi hari ini aku dibuat bahagia , karna begitu dites apa yang saya ajarkan selama ini mereka menjawab dengan lancar dan suara yang lantang, aku bahkan sempat terdiam, aku kira ini mimpi, tapi memamng ini kenyataan, dalam hatiku berkata ,terimakasih ya Allah karna engkau telah membukakan pintu kecerdasannya,

Rabu, 07 Desember 2011

kisah lucu Santri Baru dan Do’a Masuk WC


Santri Baru dan Do’a Masuk WC




              Sudah menjadi kelaziman di pesantren setiap malam Jum’at ba’da sholat Magrib membaca Yasin dan tahlil untuk mendoakan keluarga masing-masing santri, sehingga hampir semua santri hafal di luar kepala tentang bacaan Yasin dan Tahlil.
Terdapat santri baru, sebut saja namanya Asmuni. Santri Baru Asmuni cinta sekali dengan kyai sehingga seluruh gerak-gerik yang dilakukan meniru gaya kiyai, dari cara bicara, cara berjalan, ketika becanda, gaya marahnya kyaipun ditiru, bahkan gaya pidato KH Zainunddin MZ da’i sejuta umat, tak luput di tiru pula.
Dan sudah menjadi tradisi ketika ada tetangga Pesantren yang meninggal dunia atau sekedar mendoakan keluarga, santri pesantren turut di undang oleh masyarakat lingkungan untuk sekedar turut mendo’akan dan berbaur bersama-sama dengan mesayarakat, tak luput Santri Baru Bsmuni, juga turut dalam rombongan itu.
Sepakat santri senior mengerjain Santri Baru Asmuni, saat pelaksanaannya Santri Baru Asmuni di daulat untuk memimpin tahlil.
        “Monggo ustadz katuran” , di persilakanlah Santri Baru Asmuni untuk memimpin.
Dengan muka memerah dan gugup langsung Santri Baru Asmuni menduduki tempat yang telah disediakan tuan rumah untuk memimpin tahlil.
Tanpa muqoddimah dan basa-basi santri baru memimpin kuur menyamakan suara.
“Afddoludzikri fa’lam annahu laa ilaa ha ilallah”, diulangnya tiga kali.
Kemudian bacaan “Laa ilaa ha ilallah”, full dibaca lebih dari tiga puluh menit tanpa bacaan yang lain, bersama para santri dan undangan.
Ketika dirasa sudah cukup, Santri Baru Asmuni, bertepuk tangan satu kali dengan keras, tanda menghentikan bacaan, dan meredalah bacaan “laa ilaa ha ilallah
Kemudian, masih dengan agak gugup Santri Baru Asmuni melanjutkan dengan do’a penutup, pelan tapi jelas terdengar bacaan “Allahumma inni a’udzubika minal khobaa’its wal khobaa’itsi, dibaca dengan khusuk sambil memejamkan mata dan mengangkat tangan berulang-ulang, sedangkan para santri yang lain dan para undangan turut mengamini. Itulah do’a yang terpampang dipintu masuk kamar mandi umum santri.
Ketika mau pulang, tuan rumah bertanya dengan sedikit berbisik, “Ustadz kok tadi bacaanya hanya itu?”
Di jawabnya dengan percaya diri yang dipaksakan, “Ooohh … Itu bacaan yang paling utama.”
Dan tak lupa tuan rumah memberikan tiga besek tersendiri khusus pada Santri Baru Asmuni.
Sambil memerintah Santri Senior, “Kang tolong dibawakan,” sambil menyodorkan tiga besek bingkisan dan jalan kaki, Santri Baru Asmuni ganti mengerjai.
               Sedangkan Santri Baru Asmuni pulang di antar oleh keluarga tuan rumah naik motor.
Kabar terakhir Santri Baru Asmuni, menjadi da’i dan kyai muda di pulau Dewata Bali, dan sudah naik haji… Barokah Kyai, Santri Baru Asmuni menjadi KH. Asmuni.

Senin, 24 Oktober 2011

MUHASABAH


Muhasabah
Rasulullah Saw bersabda ;
“Dan tinggallah manusia-manusia yang buruk yang seenaknya melakukan zina seperti himar (keledai), maka pada zaman mereka inilah kiamat akan datang”
 (hadist riwayat shahih muslim)

Realita hidup masa kini:
7,303 anak hamil diluar nikah tahun 2009,
7 wanita bibekuk bersama 32 laki-laki khalwat ramai-ramai
Gugurkan janin sebagai wahana seks bebas
Pelajar rekam aksi cabul temannya
Bapa 3,300 anak diluar nikah
pelajar menangis mengaku
khalwat dengan lelaki yg baru dikenal 5 hari

Aku melihat apa yang dikatakan Rasulullah,,,,,,,
Seolah-olah merujuk pada zaman ini,,,
Apabila tiada lagi hijab diantara kita,,,
Kaum adam dan hawa bebas saling mendekati Tanpa mengenal arti batasan
Konon ingin memenuhi fitrah dihati,
Dan mereka menyangka hubungan mereka diridhai, tanpa memperdulikan pandangan alim ulama
Dan akhirnya mencari seribu alasan menghalalkan hubungan mereka
Tanpa segan selalu mempromosikan dosa mereka dimana-mana
facebook, twitter, blogger, dan msih bnyak yg lainnya,,,,
Hanya sekedar berharap untuk mendapat tumpuan, Agar diberi pujian dan restu ramai,
Nikmat “kebahagian” yang dicari-cari tercapai,,,,,,,,
Mereka tidak lagi menghiraukan sekeliling,,,,  Seolah-olah hidup didunia yang berasing
Yang penting kasing sayang mereka dapat dizahirkan

Disini bermula segala-galanya
Terbaru dalam timbunan sampah bayi dibuang lagi
Mayat bayi laki-laki ditemukan ditong sampah dibalut 4 bag pelastik
Membuang jabang bayi saat sahur
Burung gagak patuk mayat bayi,
Samapai bilakah anak kecil ini harus menanggung akibat “Cinta suci” mereka?????

Tidak cukupkah peringatan Allah SWT:
“Dan janganlah kamu MENDEKATI zina, sesungguhnya zina itu adalah satu perbuatanyang keji dan satu jalan yang jahat”
(surah Al-isra’ : ayat 32)

Apabila berdua-duaan antara laki-laki dan perempuan
Maka yang ketiganya adalah syetan
Disinilah bermulanya Zina!!!!!!!

A’toitana Ya Rabbi anwa’an ni’ami
Fahuzna bil atho’i ula’a sanami
Lakin bi hirsid dunya
wa tulil auhami
A’radtu anil umur
Wa anil mustalzami
Wa iniktafaina bil jismil jasim
Lakanatit dunya lana kannaim
Lakinik tinadu ni’amil karim
Fakunna bid dunya kama fil jahim
Wa inis tohabna biqolbin salim
Laqodid tahadna bi jam’in shorim
Lakinit timahu atswabi za’im
Fadoqotit dunya bizahmil muzahim
Wa initta’adna bi wa’din adim
Wa inin tahajna bin nahjil qowim
Baudna anil qolaqil adhim
Faisya fid dunya kama fin na’im
Ya Rabbi Ya Rabbi bin Nabil Adhim
Sallimna anil aduwwir rajim
Wa manid dawa’i khatwatal la im
Wansurna fil ‘uqba zumarol ‘alim

Senin, 17 Oktober 2011

Hakikat Bahasa

2.1.1 Bahasa sebagai sistem
Sebagai sebuah sistem, bahasa itu sekaligus bersifat sistematis dan sistemis. Dengan sistemis, artinya, bahasas itu tersusun menurut suatu pola: tidak tersusun secara acak, secara sembarangan. Sedangkan sistemis, artinya, bahasa itu bukan merupakan sistem tunggal, tetapi terdiri juga dari sub-sub sistem; atau sistem bawahan. Di sini dapat disebutkan, antara lain, subsistem fonologi, subsistem morfologi, subsistem sintaksis dan subsistem semantik. Tiap unsur dalam setiap subsistem juga tersusun menurut aturan atau pola tertentu, yang secara keseluruhan membentuk satu sistem. Jika tidak tersusun menurut aturan atau pola tertentu, maka subsistem itu pun tidak dapat berfungsi.
Sub sistem bahasa terutama subsistem fonologi, morfologi, dan sintaksis tersusun secara hierarkial. Artinya, subsistem yang satu terletak di bawah subsistem yang lain; lalu subsistem yang lain ini terletak pula di bawah subsistem lainnya lagi. Ketiga subsistem itu (fonologi, morfologi, dan sintaksis) terkait dengan subsistem semantic. Sedangkan subsistem leksikon yang juga diliputi subsistem semantic, berada di luar ketiga subsistem struktural itu.
2.1.2 Bahasa sebagai lambang
Lambang dengan berbagai seluk beluknya dikaji orang dalam kegiatan ilmiah dalam bidang kajian yang disebut ilmu semiotika atau semiologi, yaitu ilmu yang mempelajari tanda-tanda yang ada dalam kehidupan manusia, termasuk bahasa. Dalam semiotika atau semiologi (yang di Amerika ditokohi oleh Charles Sanders Peirce dan di Eropa oleh Fendinand de Saussure) dibedakan adanya beberapa jenis tanda, yaitu, antara lain tanda (sign), lambing (simbol), sinyal (signal), gejala (symptom), gerak isyarat (gesture), kode, indeks, dan ikon.
Tanda selain dipakai sebagai istilah generic dari semua yang termasuk kajian semiotika juga sebagai salah satu dari unsur spesifik kajian semiotika itu, adalah suatu atau sesuatu yang dapat menandai atau mewakili ide, pikiran, perasaan, benda, dan tindakan secara langsung dan alamiah. Misalnya, kalau di kejauhan tampak ada asap membumbung tinggi, maka kita tahu bahwa di sana pasti ada api, sebab asap merupakan tanda akan adanya api itu.
Berbeda dengan tanda, lambang atau simbol tidak bersifat langsung dan alamiah. Lambing menandai sesuatu yang lain secarakonvensional, tidak secara alamiah dan langsung. Karena itu lambang sering disebut bersifat arbiter, sebaliknya, tanda serperti yang sudah dibicarakan di atas, tidak bersifat arbiter. Yang dimaksud arbiter adalah tidak adanya hubungan langsung yang bersifat wajib antara lambing dengan yang dilambangkannya.
Oleh karena itulah, Earns Cassier, seorang sarjana dan filosof mengatakan bahwa manusia adalah makhluk bersimbol (animal symbolicum). Hampir tidak ada kegiatan yang tidak terlepas dari symbol. Termasuk alat komunikasi verbal yang disebut bahasa. Satuan-satuan bahasa, misalnya kata, adalah symbol atau lambang.
Tanda-tanda itu adalah sinyal gerak isyarat (gesture), gejala, kode, indeks, dan ikon. Yang dimaksud dengan sinyal atau isyarat adalah tanda yang disengaja yang dibuat oleh pemberi sinyal agar si penerima sinyal melakukan sesuatu.
2.1.3 Bahasa adalah bunyi
Kata bunyi, yang sering sukar dibedakan dengan kata suara, sudah biasa kita dengar dalam kehidupan sehari-hari. Secara teknis, menurut Kridalaksana (1983:27) bunyi adalah kesan pada pusat saraf sebagai akibat dari getaran gendang telinga yang bereaksi karena perubahan-perubahan dalam tekanan udara.
Bunyi bahasa atau bunyi uajaran (speech sound) adalah satuan bunyi yang dihasilkan oleh alat ucap manusia yang di dalam fonetik diamati sebagai “fon” dan di dalam fonemik sebagai “fonem”.
2.1.4 Bahasa itu bermakna
Oleh karena lambang-lambang itu mengacu pada sesuatu konsep, ide, atau pikiran, maka dapat dikatakan bahwa bahasa itu mempunyai makna. Lebih umum dikatakan lambang bunyi tersebut tidak punya referen, tidak punya rujukan.
Makna yang berkenaan dengan morfem dan kata disebut makna leksikal; yang berkenaan dengan frase, klausa, dan kalimat disebut makna gramatikal; dan yang berkenaan dengan wacana disebut makna pragmatic, atau makna konteks.
2.1.5 Bahasa itu arbiter
Kata arbiter diartikan sewenang-wenang, berubah-ubah, tidak tetap, mana suka. Yang dimaksud dengan istilah arbiter itu adalah tidak adanya hubungan wajib antara lambang bahasa (yang berwujud bunyi itu) dengan konsep atau pengertian yang dimaksud oleh lambang tersebut.
Ferdinand de Saussure (1966:67) dalam dikotominya membedakan apa yang disebut significant (Inggris: signifier) dan signifie (Inggris: signified). Signifiant adalah lambang bunyi itu, sedangkan signifie adalah konsep yang dikandung oleh signifiant.
2.1.6 Bahasa itu konvensional
Meskipun hubungan antara lambang bunyi dengan yang dilambangkannya bersifat arbiter, tetapi penerimaan lambang tersebut untuk suatu konsep tertentu yang bersifat konfensional. Artinya semua anggota masyarakat bahasa itu mematuhi konfensi bahwa lambang tertentu itu digunakan untuk mewakili konsep yang diwakilinya. Jadi kalau kearbiteran bahasa pada hubungan antara lambanag-lamabang bunyi dengan konsep yang dilambangkannya, maka kekonfensionalan bahasa terletak pada kepatuhan para penutur bahasa untuk menggunakan lambang itu sesuai dengan konsep yang dilambangkannya.
2.1.7 Bahasa itu produktif
Kata produktif adalah bentuk ajektif dari kata benda produksi. Arti produktif “ banyak hasilnya” atau lebih tepat “terus menerus menghasilkan” lalu, kalau bahasa itu dikatakan produktif, maka maksudnya, meskipun unsure-unsur itu terbatas, tapi dengan unsur-unsur dengan jumlahny ayng terbatas terdapat di luar satuan-satuan bahasa yang jumlahnya yang tidak terbatas, meski secara relative sesuai dengan sistem yang berlaku dalam bahasa.
Keproduktifan bahasa Indonesia dapat juga dilihat pada jmumlah yang dapat dibuat. Dengan kosa kata yang menurut Kamus Besar Huruf Bahasa Indonesia hanya berjumlah lebih kurang 60.000 buah, kita dapat membuat kalimat bahasa Indonesia yang mungkin puluhan juta banyaknya, termasuk juga kalimat-kalimat yang belum pernah ada atau pernah dibuat orang.
Keproduktifan bahasa memang ada batasnya dalam hal ini dapat dibedakan adanya dua macam keterbatasan, yaitu keterbatasan pada tingkat parole dan keterbatasan pada tingkat langue. Keterbatasan pada tingkat parole adalah pada ketidak laziman atau kebelum laziman bentuk-bentuk yang dihasilkan. Sedangkan pada tingkat langue keproduktifan itu dibatasi karena kaidah atau sistem yang berlaku.
2.1.8 Bahasa itu unik
Unik artinya mempunyai ciri khas yang spesifik yang tidak dimiliki oleh yang lain. Lalu, kalau bahasa dikatakan bersifat unik., maka artinya, setiap bahasa mempunyai cirri khas sendiri yang tidak dimiliki oleh bahasa lainnya. Ciri khas ini bisa menyangkut sistem bunyi , sistem pembetukkan kata, sistem pembentukkan kalimat, atau sistem-sistem lainnya. Salah satu keunikkan bahasa Indonesia adalah bahwa tekanan kata tidak bersifat morfemis, melainkan sintaksis. Maksudnya, kalau pada kata tertentu di dalam kalimat kita berikan tekanan, maka makna itu tetap. Yang berubah adalah makna keseluruhan kalimat.
2.1.9 Bahasa itu universal
Selain bersifat unik, yakni mempunyai sifat atau cirri masing-masing, bahasa itu bersifat universal. Artinya, ada ciri-ciri yang sama yang dimiliki oleh setiap bahasa yang ada di Dunia ini. Ciri-ciri yang universal ini merupakan unsur bahasa yang paling umum, yang biasa dikaitkan dengan ciri-ciri atau sifat-sifat bahasa lain.
Karena bahasa itu berupa ujaran, maka ciri universal dari bahasa yang paling umum adalah bahwa bahasa itu mempunyai bunyi bahasa yang terdiri dari vocal dan konsonan. Tetapi berapa banyak vocal dan konsonan yang dimiliki oleh setiap bahasa, bukanlah persoalan keuniversalan. Bukti dari keuniversalan bahasa adalah bahwa setiap bahasa mempunyai satuan-satuan bahasa yang bermakna, entah satuan yang maknany kata, frase, klausa, kalimat, dan wacana. Namun, bagaimana satuan-satuan itu terbentuk mungkin tidak sama. Kalau pembentukan itu bersifat khas, hanya dimiliki sebuah bahasa maka hal itu merupakan keunikan dari bahasa. Kalau ciri itu dimiliki oleh sejumlah bahasa dalam satu hukum atau satu golongan bahasa, maka ciri tersebut menjadi ciri universal dan keunikan rumpun atau sub rumpun bahasa tersebut.
Ada juga yang mengatakan bahwa ciri umum yang dimiliki oleh bahasa-bahasa yang berada dalam satu rumpun atau sub rumpun, atau juga dimiliki oleh sebagian besar bahasa-bahasa yang ada di Dunia ini sebagai ciri setengah universal. Kalau dimiliki oleh semua bahasa yang ada di Dunia ini beru bisa disebut universal.
2.1.10 Bahasa itu dinamis
Bahasa adalah satu-satunya milik manusia yang tidak perbah lepas dari segala kegiatan dan gerak manusia sepanjang keberadaan manusia itu, sebagai makhluk yang berbudaya dan bermasyarakat tak ada kegiatan manusia yang tidak disertai oleh bahasa. Malah dalam bermimpi pun manusia menggunakan bahasa.
Karena keterkaitan dan keterikatan bahasa itu dengan manusia, sedangkan dalam kehidupannya dalam manusia nya kegiatan manusia tidak tetap dan tidak berubah, maka bahasa itu juda menjadoi ikut berubah, menjadi tidak tetap, menjadi tidak statis. Karena itulah, bahas itu disebut dinamis.
Perubahahan yang paling jelas, dan paling banyak adalah pada bidang leksikon dan semantik. Barang kali, hamper setiap saat ada kata-kata baru muncul sebagai akibat perubahan dan ilmu, atau ada kata-kata lama yang muncul dengan makna baru. Hal ini juga dipahami, karen kata sebagai satuan bahasa terkecil, adalah sarana atau wadah untuk menampung suatu konsep yang ada dalam masyarakat bahasa. Dengan terjadinya perkembangan kebuidayaan, perkembang ilmu dan tekhnologi, tentu bermunculan konsep-konsep baru, yang tentunya disertai wadah penampungnya, yaitu kata-kata atau istilah-istilah baru.
Perubahan dalam bahasa ini dapat juga bukan terjadi berupa pengembangan dan perluasan, melainkan berupa kemunduran sejalan dengan perubahan yang dialami masyarakat bahasa yang bersangkutan. Berbagaio laasan sosial dan politik menyebabkan orang meninggalkan bahasanya, atau tidak lagi menggunakan bahasanya, lalu menggunakan bahasa lain. Di Indonesia, kabarnya telah banyak bahasa daerah yang telah ditinggalkan para penuturnya terutaam dengan alasan sosial. Jika ini terjadi terus menurus, maka pada suatu saat kelak banyak bahasa yang hanya ada beradadalam dokumentasi belaka, karena tidak ada lagi penuturnya.
2.1.11 Bahasa itu bervariasi
Setiap bahasa digunakan oleh sekelompok orang yang termasuk dalam suatu masyarakat bahasa. Yang termasuk dalam masyarakat bahsa adalah mereka merasa menggunakan bahasa yang sama. Jadi, kalau disebut masyarakat bahasa Indonesia adalah semua orang yang merasa memiliki dan menggunakan bahasa Indonesia.
Anggota masyarakat suatu bahasa biasanya terdiri dari ber bagai orang dengan berbagai status sosial dan berbagai latar belakang budaya yang tidak sama. Oleh karena itu, karena latar belakang dan lingkungannya yang tidak sama, maka bahasa yang mereka gunakan menjadi bervariasi atau beragam, dimana antara variasi atau ragam yang satu dengan yang lain sering kali mempunyai perbedaan yang besar.
Mengenai variasi bahasa ini ada tiga istilah yang perlu diketahui, yaitu idiolek, dialek, dan ragam. Idiolek adalah variasi atau ragam bahasa yang bersifat perseorangan. Setiap orang tentu mempunyai ciri khas bahasanya masing-masing. Kalau kita banyak membaca karangan orang yang banyak menulis, misalnya, Hamka, Sutan Takdir Alisyahbana, Hamingway, atau Mark twain , maka kita akan dapat mengenali ciri khas atau idiolek pengarang-pengarang itu.
Dialek adalah variasi bahasa yang di gunakan oleh sekelompok anggota masyarakat pada suatu tempat atau suatu waktu. Variasi bahasa berdasarkan tempat ini lazim disebut dengan nama dialek regional , dialek area, atau dialek geografi. Sedangkan variasi bahasa yang digunakan sekelompok anggota masyarakat dengan status sosial tertentu disebut dialek sosial atau sosiolek.
Ragam atau ragam bahasa adalah variasi bahasa yang digunakan dalam situasi, keadaan, atau untuk keperluan tertentu. Untuk situasi formal digunakan ragam bahasa yang disebut ragam baku atau ragam standar, untuk situasi yang tidak formal digunakan ragam yang tidak baku atau ragam nonstandar. Dari sarana yang digunakan dapat dibedakan adanya ragam lisan dan ragam tulisan. Untuk keperluan pemakaiannya dapat dibedakan adanya ragam bahasa ilmiah, ragam bahasa jujrnalistik, ragam bahasa sastra, ragam bahasa militer, dan ragam bahasa hukum.
2.1.12 Bahasa itu manusiawi
Kalau kita menyimak kembali cirri-ciri bahasa, yang sudah dibicarakan dimuka, bahwa bahasa itu adalah sistem lambang bunyi yang dihasilkan oleh alat ucap manusia, bersifat arbitrer, bermakna, dan produktif, maka dapat dikatakan bahwa binatang tidak mempunyai bahasa. Bahwa binatang dapat berkomunikasi dengan sesama jenisnya, bahkan juga dengan manusia, adalah memang suatu kenyataan. Namun, alat komunikasinya tidaiklah sama dengan alat komunikasi manusia, yaitu bahasa.
Dari penelitian para pakar terhadap alat komunikasi binatang bisa disimpulkan bahwa satu-satuan komunikasi yang dimiliki binatang-binatang itu bersifat tetap.sebetulnya yang membuat alat komunikasi manusia itu, yaitu bahasa, produktif dan dinamis, dalam arti dapat dipakai untuk menyatakan sesuatu yang baru, berbeda dengan alat komunikasi binatang, yang hanya itu-itu saja dan statis , tidak dapat dipakai untuk menyatakan sesuatu yang baru, bukanlah terletak pada bahasa itu dan alat komunikasi binatang itu, melainkan pada perbedaan besar hakikat manusia dan hakikat binatang. Manusia sering disebut-sebut sebagai homosapiens makhluk yang berpikir, homososio makhluk yang bermasyarakat, homofabel makhluk pencipta alat-alat dan juga animalrasionale makhluk rasional yang beerakal budi. Maka dengan segala macam kelebihannya itu jelas manusia dapat memikirkan apa saja yang lalu, yang kini, dan yang masih akan datang, serta menyampaikannya kepada orang lain melalui alat komunikasinya, yaitu bahasa. Oleh karena itu bisa disimpulkan bahwa alat komunikasi manusia yang namanya bahasa, adalah bersifat manusiawi, dalam arti hanya milik manusia dan hanya dapat digunakan oleh manusia.

Rabu, 29 Juni 2011

Isra’ Mi’raj Nabi Muhammad SAW

Maha suci Allah, yang telah memperjalankan hamba-Nya pada suatu malam dari Masjidil Haram ke Masjidil Aqsha yang telah Kami berkahi sekelilingnya agar Kami pertihatkan kepadanya sebagian dari tanda-tanda (kebesaran) Kami. Sesungguhnya Dia adalah Maha Mendengar lagi Maha Melihat” (Q.S.Al-Israa’:1)
Isra’ Mi’raj adalah peristiwa luar biasa yang dialami Rasulullah pada malam 27 Rajab
tahun ke 12 kenabian, begitu luar biasanya sehingga Allah mengfirmankan ayat yang menjadi petunjuk mengenai hal tersebut dengan kata SUBHANA, sebuah ungkapan ketika melihat kejadian yang menakjubkan. Menurut imam Al Harits : Tasbih itu berfungsi sebagai bantahan yang menolak kepada orang-or-ang kafir, karena setelah nabi Muhammad SAW menceritakan kepada mereka tentang Isra’ mereka mendustakannya. Jadi artinya adalah bahwa Maha Suci Allah dari menjadikan seorang Rasul yang bohong.
Isra’ dan Mi’raj merupakan dua kejadian yang berkesinambungan dan kesatuan yang tidak terpisahkan. Isra’ berarti perjalanan dimalam hari sedang mi’raj adalah tangga alat naik. Peristiwa Isra’ Mi’raj bermula ketika Malaikat Jibril AS mendapat perintah dari Allah untuk menjemput Nabi Muhammad SAW untuk menghadap Allah SWT. Jibril membangunkan Rasul dan membimbing-nya keluar Masjidil Haram ternyata diluar masjid telah menunggu kendaraan bernama Buraq sebuah kendaraan yang kecepatannya lebih cepat dari kecepatan rambat cahaya dan setiap langkahnya sejauh mata memandang.
Perjalanan dimulai Rasulullah mengendarai buraq bersama Jibril. Jibril berkata, “turunlah dan kerjakan shalat”.
Rasulullahpun turun. Jibril berkata, “dimanakah engkau sekarang ?”
“tidak tahu”, kata Rasul.
“Engkau berada di Madinah, disanalah engkau akan berhijrah “, kata Jibril.
Perjalanan dilanjutkan ke Syajar Musa (Masyan) tempat penghentian Nabi Musa ketika lari dari Mesir, kemudian kembali ke Tunisia tempat Nabi Musa menerima wahyu, lalu ke Baitullhmi (Betlehem) tempat kelahiran Nabi Isa AS, dan diteruskan ke Masjidil Aqsha di Yerussalem sebagai kiblat nabi-nabi terdahulu.
Jibril menurunkan Rasulullah dan menambatkan kendaraannya. Setelah rasul memasuki masjid ternyata telah menunggu Para nabi dan rasul. Rasul bertanya : “Siapakah mereka ?”
“Saudaramu para Nabi dan Rasul”.
Kemudian Jibril membimbing Rasul kesebuah batu besar, tiba-tiba Rasul melihat tangga yang sangat indah, pangkalnya di Maqdis dan ujungnya menyentuh langit. Kemudian Rasulullah bersama Jibril naik tangga itu menuju kelangit tujuh dan ke Sidratul Muntaha.
Dan sesungguhnya nabi Muhammad telah melihatJibril itu (dalam rupanya yang asli) pada waktu yang lain, yaitu di Sidratul Muntaha. Di dekatnya ada surga tempat tinggal, (Muhammad melihat Jibril) ketika Sidratull Muntaha diliputi oleh sesuatu yang meliputinya. Penglihatannya (Muhammad) tidak berpaling dariyang dilihatnya itu dan tidakpula melampauinya. Sesungguhnya dia telah melihat sebahagian tanda-tanda (kekuasaan) Tuhannya yang paling besar.” (QS. An-Najm : 13 – 18).
Selanjutnya Rasulullah melanjutkan perjalanan menghadap Allah tanpa ditemani Jibril Rasulullah membaca yang artinya : “Segala penghormatan adalah milikAllah, segala Rahmat dan kebaikan“.
Allah berfirman yang artinya: “Keselamatan bagimu wahai seorang nabi, Rahmat dan berkahnya“.
Rasul membaca lagi yang artinya: “Keselamatan semoga bagi kami dan hamba-hamba Allah yang sholeh. Rasulullah dan ummatnya menerima perintah ibadah shalat“.
Berfirman Allah SWT : “Hai Muhammad Aku mengambilmu sebagai kekasih sebagaimana Aku telah mengambil Ibrahim sebagai kesayanagan dan Akupun memberi firman kepadamu seperti firman kepada Musa Akupun menjadikan ummatmu sebagai umat yang terbaik yang pernah dikeluarkan pada manusia, dan Akupun menjadikan mereka sebagai umat wasath (adil dan pilihan), Maka ambillah apa yang aku berikan kepadamu dan jadilah engkau termasuk orang-orang yang bersyukur“.
“Kembalilah kepada umatmu dan sampaikanlah kepada mereka dari Ku”.
Kemudian Rasul turun ke Sidratul Muntaha.
Jibril berkata : “Allah telah memberikan kehormatan kepadamu dengan penghormatan yang tidak pernah diberikan kepada seorangpun dari makhluk Nya baik malaikat yang terdekat maupun nabi yang diutus. Dan Dia telah membuatmu sampai suatu kedudukan yang tak seorangpun dari penghuni langit maupun penghuni bumi dapat mencapainya. Berbahagialah engkau dengan penghormatan yang diberikan Allah kepadamu berupa kedudukan tinggi dan kemuliaan yang tiada bandingnya. Ambillah kedudukan tersebut dengan bersyukur kepadanya karena Allah Tuhan pemberi nikmat yang menyukai orang-orang yang bersyukur”.
Lalu Rasul memuji Allah atas semua itu.
Kemudian Jibril berkata : “Berangkatlah ke surga agar aku perlihatkan kepadamu apa yang menjadi milikmu disana sehingga engkau lebih zuhud disamping zuhudmu yang telah ada, dan sampai lah disurga dengan Allah SWT. Tidak ada sebuah tempat pun aku biarkan terlewatkan”. Rasul melihat gedung-gedung dari intan mutiara dan sejenisnya, Rasul juga melihat pohon-pohon dari emas. Rasul melihat disurga apa yang mata belum pernah melihat, telingan belum pernah mendengar dan tidak terlintas dihati manusia semuanya masih kosong dan disediakan hanya pemiliknya dari kekasih Allah ini yang dapat melihatnya. Semua itu membuat Rasul kagum untuk seperti inilah
mestinya manusia beramal. Kemudian Rasul diperlihatkan neraka sehingga rasul dapat melihat belenggu-belenggu dan rantai-rantainya selanjutnya Rasulullah turun ke bumi dan kembali ke masjidil haram menjelang subuh.
Mandapat Mandat Shalat 5 waktu
Agaknya yang lebih wajar untuk dipertanyakan, bukannya bagaimana Isra’ Mi’raj, tetapi mengapa Isra’ Mi’raj terjadi ? Jawaban pertanyaan ini sebagaimana kita lihat pada ayat 78 surat al-lsra’, Mi’raj itu untuk menerima mandat melaksanakan shalat Lima waktu. Jadi, shalat inilah yang menjadi inti peristiwa Isra’Mi’raj tersebut.
Shalat merupakan media untuk mencapai kesalehan spiritual individual hubungannya dengan Allah. Shalat juga menjadi sarana untuk menjadi keseimbangan tatanan masyarakat yang egaliter, beradab, dan penuh kedamaian. Makanya tidak berlebihan apabila Alexis Carrel menyatakan : “Apabila pengabdian, sholat dan do’a yang tulus kepada Sang Maha pencipta disingkirkan dari tengah kehidupan bermasyarakat, hal itu berarti kita telah menandatangani kontrak bagi kehancuran masyarakat tersebut“. Perlu diketahui bahwa A. Carrel bukanlah orang yang memiliki latar belakang pendidikan agama, tetapi dia adalah seorang dokter dan pakar Humaniora yang telah dua kali menerima nobel atas hasil penelitiannya terhadap jantung burung gereja dan pencangkokannya. Tanpa pendapat Carrel pun, Al – Qur’an 15 abad yang lalu telah menyatakan bahwa shalat yang dilakukan dengan khusu’ akan bisa mencegah perbuatan keji dan mungkar, sehingga tercipta tatanan masyarakat yang harmonis, egaliter, dan beretika.
Sumber : Risalah Dakwah Mau’izah Hasanah No. 525 – 8 Agustus 2008